Bagi Mahasiswa Subi, mudik merupakan suatu kesempatan untuk
bersilahturami, sungkem, mohon ampun kepada orang tua. Kekuatan maaf itu dapat
memepererat tali kasih sayang dan romantisme dalam keluarga. Melalui mudik,
mahasiswa mendapat kepuasan jiwa dan raga karena telah berhasil mengalahkan
puasa, dan rasa lelah di perjalanan. Ini merupakan momen yang tepat agar
mahasiswa dapat melakukan introspeksi diri, mawas diri, dan bertanya kepada
diri kita sendiri apakah sebagai kita sudah membahagiakan orang tua? atau hanya
membuat orang tua kecewa dengan perkuliahan kita? Bahkan dengan mudik mahasiswa
serasa mendapatkan semangat baru untuk menjalani aktivitas kuliah di masa-masa
yang akan datang.
Aktivitas rutin ini tidak hanya dilakukan oleh para pekerja
yang merantau. Mahasiswa Mahasiswa Subi juga tentunya akan mengalami hal yang
sama. Fakta menarik bahwa sebuah kampus yang terkenal biasanya didatangi
mahasiswa dari seluruh penjuru yang dampaknya adalah mahasiswa sangat beragam
dan bervariasi dari seluruh kota di Indonesia.
Bagi mahasiswa Subi, aktivitas mudik sudah menjadi aktivitas
rutin setiap menjelang Lebaran. Hal ini juga didukung dengan kebijakan kampus
yang rata-rata telah meliburkan beberapa hari sebelum Lebaran. Berbeda dengan
perusahaan yang baru memberikan liburan pada hari ke 3, biasanya kampus sudah
memberi libur jauh sebelum harinya.
Beberapa aktivitas mudik tahun ini yang menarik untuk
dicermati antara lain adalah salah satu mahasiwa sebut saja namanya Si-Senduk,
kuliah di Pontianak Kalimantan Barat nekad mudik menggunakan pompong laut
mengarungi gelombang yang lumayan besar untuk sampai di kampung
halamannya di Kecamatan Subi yang menempuh perjalanan selama belasan
jam.
Menjelang libur panjang, Si-Senduk disibukkan dengan
persiapannya untuk pulang kampung, mulai dari belanja perlengkapan dan
peralatan untuk lebaran seperti kue, baju, alat-alat elekronikpun ia beli,
entah keperluanya untuk apa kita kurang tau, nggak mungkin rasanya lebaran make
alat elekrtonik seperti printer, alat untuk pembungkus makanan kecil, tapi bisa
jadi aja sih,,,. Mungkin Si-Senduk mau buka jasa print-out kali,
weka,weka,weka.
Menjelang PULKAM banyak sekali barang-barang yang ia beli,
bayangkan saja selama 4 hari ia bolak-balik ke pasar “nyawe puase pulakan” “kayak
Sertika ya?..” katanya sih barang titipan orang… baik krabat dekat maupun
krabat jauh, setelah 4 hari ia habiskan waktunya untuk bolak-balik ke pasar
kemudian satu hari ia gunakan untuk packing barang yang ia belanjakan, setelah
packing. Bayangkan saja belanja 4 hari kepasar brapa banyak tuh kira-kira kotak
yang harus ia packing??? Setelah saya hitung ada 10 kotak barang yg mau ia bawa
pulang ke Subi. “saya tercengang” membayangkan omelan si supir bis ketika
melihat barang bawaannya itu.
Sambil menngu bis Si-Senduk telfonan dengan si pacarnya
biasala refresh… kecapean abis packing barang..,
Jam sudah menunjukkan pukul 01.30 wib Si-Senduk pun
bersiap-siap, biar lebih awal…, kan barangnya banyak.., mending kalo si supir
bis mau jemput depan gang kontraan, lah taunya si supir bis telfon suruh tunggu
di depan SPBU berjarak kurang lebih ½ kilo dari kontraan. Weh… dengar si-supir
bis bilang gitu sayapun “neguk aek lior” membayangkan mengangkut barang begitu
banyak. Tapi nggak jadi masalah kitapun beranjak sedikit demi sedikit
mengangkut barang-barang itu. Setelah kurang lebih 30 menit kitapun selesai
mengangkut barang-barang Si-Senduk.
Sambil menunggu jemputan Si-Sendukpun beristirahat sejenak,
kurang lebih 1 jam menunggu si supirpun nelfon Si-Senduk “tunggu sebentar ya”
kata si supir, Si-Sendukpun menjawab “iya bang”. Weh.., dengar si supir bilang
gitu kirain 1 menit lagi, taunya 30 menit setelah nelfon baru datang, leherpun
serasa mau “terkelik” tengok kanan kiri menuggu si supir bis, ngobrolpun sudah
nggak ada bahan yang mau di obrol lagi . Di kejauan tampak lampu-lampu, seperti
lampu kapal sabuk gitulah, Si-Sendukpun bersiap-siap karna tidak salah lagi itu
past bis yang di tunggu-tunggu dsri tadi.
Terlihat dekat ternyata benar, saking laju bisnya malah
kelewatan, minta di undur si supir nggak mau, “ngeri lihat kotak yang begitu
banyak” hehee
Terpaksa kita angkut lagi tu barang-barang, sambil mengankat
barang ke atas bis, terdengar seperti si supir “nyunyok-nyunyok”, saya sih
senyum aja.. wkwkw. Tapi itu hal yang biasa buat Mahasiswa Subi yang libur
menjelang lebaran. Jarum Jam sudah menunjukkan pukul 03:15 wib Si-Sendukpun
naik kedalam Bis, si supirpun melanjutkan perjalanan menuju Kota Pemangkat.
Setiba di Pemangkat nanti Si-Senduk menggunakan pompong laut
berangkat dari Pemangkat ke Kecamatan subi. Belum ada kabar apakah
Si-Senduk sudah sampai di Subi atau belum, kalo sudah sampai salam aja ya buat
keluarga dan teman-teman di Subi ya Senduk…,
Bagi mahasiswa atau siswa yang sedang mudik, selamat jalan
dan hati-hati di jalan. Semoga sampai di tujuan dengan selamat dan bisa
berlebaran di kampung halaman.
Persahabatan tak harus rusak karena hutang
Bila tak lupa untuk mengembalikan
Persahabatan kita semoga semakin matang
ketika lebaran kita saling memaafkan
Selamat Idul Fitri 2015.


